Partai Keadilan Sejahtera (PK Sejahtera) adalah jelmaan baru dari Partai Keadilan (PK) yang tidak lolos electoral threshold pada Pemilihan Umum 1999. Meski akhirnya terbentur pada ketentuan undang-undang menyangkut ambang batas suara, namun kiprah partai baru ini tidak bisa dipandang sebelah mata.
Tidak berlebihan bila menyebut PK Sejahtera sebagai partai yang fenomenal. Muncul tanpa tokoh nasional dan akar historis dalam debut pertamanya melalui PK pada Pemilu 1999, partai ini berhasil menduduki peringkat ketujuh dari 48 partai peserta Pemilu. PK berhasil mendulang suara 1,4 persen dan mendapat 7 kursi Dewan Perwakilan Rakyat, 21 kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi, dan sekitar 160 kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten atau Kota.
PK Sejahtera berasaskan Islam dan memproklamirkan diri sebagai partai da'wah dalam pengertian seluas-luasnya. Tidak seperti partai-partai Islam lainnya yang memperjuangkan dimasukannya tujuh kata dalam piagam Jakarta, PKS memilih memperjuangkan pencantuman rumusan Piagam Madinah dalam pasal 29 UUD 1945.
Dalam Pemilu 2004 ini, PKS kebagian nomor urut 16. Tentang perolehan suara, Ketua Umum PKS Hidayat Nur Wahid yakin, dalam pesta demokrasi kali ini PKS bakal lolos electoral threshold. "Target ideal kami 10-12 persen. Target rasional 6-7 persen," kata Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera DR.M.Hidayat Nur Wahid. MA
Perolehan Suara Partai Keadilan Sejahtera
Desa Cibarusah Kota
DPR RI = 608
DPRD Propinsi = 578
DPRD Kabupaten = 463
Perolehan ini menempatkan Partai Keadilan Sejahtera
pada urutan 3 dari seluruh parpol peserta Pemilu 2004.
Sumber : Pusat Komunikasi dan Informasi PK-Sejahtera
DPRa Cibarusah Kota
Pemilu 2004
Tanggal Penghitungan Suara di PPS Cibarusah Kota, 6 - 7 April 2004
Perolehan Suara Partai Untuk DPR RI
Perolehan Sementara Suara Partai Untuk DPR RI
Sumber: kpu.go.id
Update: 15/04/2004 09:04:19
No Urut
Nama Partai
Jumlah
%
20
Partai Golongan Karya
18.312.904
20.92%
18
Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan
17.301.240
19.77%
15
Partai Kebangkitan Bangsa
10.618.069
12.13%
5
Partai Persatuan
Pembangunan
7.237.525
8.27%
9
Partai Demokrat
6.577.274
7.51%
16
Partai Keadilan Sejahtera
6.242.661
7.13%
13
Partai Amanat Nasional
5.663.008
6.47%
3
Partai Bulan Bintang
2.205.439
2.52%
17
Partai Bintang Reformasi
1.983.754
2.27%
14
Partai Karya Peduli Bangsa
1.859.128
2.12%
19
Partai Damai Sejahtera
1.380.111
1.58%
10
Partai Keadilan Dan
Persatuan Indonesia
974.164
1.11%
8
Partai Nasional Banteng
Kemerdekaan
847.627
0.97%
6
Partai Persatuan Demokrasi
Kebangsaan
810.153
0.93%
1
Partai Nasional Indonesia
Marhaenisme
652.011
0.74%
11
Partai Penegak Demokrasi
Indonesia
611.763
0.70%
4
Partai Merdeka
603.639
0.69%
24
Partai Pelopor
566.605
0.65%
22
Partai Sarikat Indonesia
461.251
0.53%
7
Partai Perhimpunan
Indonesia Baru
427.786
0.49%
23
Partai Persatuan Daerah
418.875
0.48%
2
Partai Buruh Sosial
Demokrat
390.262
0.45%
21
Partai Patriot Pancasila
69.624
0.80%
12
Partai Persatuan Nahdlatul
Ummah
68.266
0.78%
Total
87,524,149
100
PK Sejahtera Cibarusah Kota : Peristiwa ini terjadi saat Moncong Putih mengadakan kampanye putaran terakhir, tepatnya hari Minggu 28 Maret lalu. Saat itu aku berdiri dalam bus Metromini 74 dengan tujuan Blok M yang penuh sesak, karena sebagian besar bus di carter oleh partai berlambang banteng gemuk tersebut.
Kampanye putaran ketiga Moncong Putih membuat jalan Tanah Kusir menuju Blok M Macet. Hingga banyak penumpang yang berkeluh, termasuk aku.
Tepat dihadapanku, duduk dua orang wanita paruh baya, usianya mungkin sekitar empat puluhan. Wanita yang yang duduk di dekat jendela, bertubuh subur alias gemuk, dengan rambut pendek dan keriting. Sedang wanita disebelahnya bertubuh kurus dengan rambut lurus sebahu yang dibiarkannya tergerai. Dipangkuannaya terlelap seorang bocak cilik yang masih balita.
Walau sebagian besar penumpang di bus itu mengeluh, namun tidak dengan kedua wanita di hadapanku itu, mereka malah asyik berbincang-bincang tentang kampanye dan partai politik.
Kalau kampanye PDIP banyak yang ikut dan jalanan pasti macet kata wanita bertubuh subur tersebut. Sekarang partainya banyak, jadi bingung milihnyalanjutnya.
Kalau tetangga saya sih ngebilangin nyuruh pilih partai yang putih itu. Katanya sih mau menegakkan syariat Islam Wanita bertubuh ramping menimpali sambil mengipasi anaknya dengan pamlet yang berlambangkan Partai Persatuan Pembangunan.
Yang mana sih partainya?
Itu yang lambangnya begini Wanita ramping itu menggerakkan jari telunjuknya dan menggambarkan lambang salah satu partai peserta pemilu. Aku yang melihat adegan itu tersenyum-senyum sendiri, karena aku tahu benar yang dimaksud wanita ramping itu adalah PKS. Ingin rasanya memberikan PKS yang ada di dalam tasku, agar wanita subur itu segera tahu lambang PKS. Tapi aku urungkan niat, karena aku ingin mendengar perbincangannya tentang PKS lebih jauh.
Itu namanya partai apa? wanita subur kembali bertanya.
Saya lupa namanya. Pokoknya benderanya putih, terus ada lambang begini kembali tangan wanita ramping tersebut membetuk lambang PKS . Benderanya banyak koq di jalan-jalan, nanti saya kasih tahu deh namanya kalau inget.
Bus melaju dengan merangkak, udara yang panas di luar menjadi terasa lebih panas di dalam bus, karena penuhnya penumpang. Saat bus melewati stasiun kereta api Kebayoran Lama, Wanita ramping itu kembali berceloteh.
Itu dia tuh benderanya ditunjuknya bendera PKS yang sedang berkibar di tiang listrik dekat pintu kereta. Oh... iya, namanya PKS, baru inget, PK Sejahtera wanita kurus itu tampak gembira bisa mengingat kembali nama PK Sejahtera.
Itu juga tuh, pamletnya, banyak kan... ditunjuknya pamlet PKS yang menempel di bak sampah dan seng di sepanjang rel kereta api Kebayoran Lama.
Oh.. itu. Iya, saya tahu sekarang
Bus terus melaju, melewati SMU 29. di sini bus melaju lancar, tidak ada kemacetan, hingga tiba di perempatan lampu merah perbatasan Kebayoran Lama dan Kebayoran Baru
Itu kan benderanya....? Wanita subur menunjuk bendera dengan dasar putih yang menggantung di lampu merah.
Bukan itu..., itu mah bendera PAN. Bendera PKS ada warna kuningnya Sang Wanita subur hanya terdiam.
Tuh benderanya..., ada warna kuning sama hitamnya ujar wanita ramping, menunjuk bendera PKS besar yang terpasang di pagar rumah dekat perempatan di Jl. Singgalang
Oh... wanita subur mengangguk-angguk. Itu ada lagi tuh benderanya ditunjuknya bendera putih yang bertengger di pohon depan SMP 11.
Bukan itu..., itu mah bendera PNBK. Bendera PKS lambangnya kayak begini, warnaya kuning, sama hitam, dasarnya yang putih telunjuk wanita ramping kembali membentuk gambar PK Sejahtera. Ia tampak sedikit kesal, karena beberapa kali diberitahu, namun wanita subur disebelahnya itu tidak paham-paham juga. Hatiku tidak kuat menahan tawa, ingin rasanya memberi segera brosur PKS yang ada di dalam tasku , tapi ku urungkan niat lagi.
Metromini 74 yang semakin sesak dengan penumpang yang terus bertambah, terus melaju melalui Pasar Mayestik. Ketika bus telah berada di Rumah Sakit Pusat Pertamina, aku segera mengeluarkan 2 lembar brosur Umum yang berisikan profil dan kiprah PK Sejahtera yang ku rancang bersama tim Media DPD PKS Jakarta Selatan, dan brosur PKS yang meniru kemasan obat sekit kepala bintang tujuh, karya kreatif DPC Kebayoran Baru.
Bus hampir menuju Blok M, aku bersiap-siap untuk turun, saat lampu pengatur kendaraan berwarna merah, dan bus berhenti, ku berikan dua lember brsosur PKS tersebut kepada Wanita ramping. Maaf Bu, mau kasih brosur PKS, semoga teman yang disebelah Ibu tidak salah lagi ucapku padanya yang setengah mengantuk. Oh.. Makasih ya ucap wanita ramping itu sambil mengucek matanya. Aku pun segera turun dari bus tersebut. Sebelum kakiku menginjak tanah, sempat ku lirik kedua wanita itu. Tampak wanita subur sedang tertidur lelap. Ehm.. semoga dia tak keliru lagi dengan logo PKS, dan semoga kedua wanita itu menjadikan PKS sebagai pilihannya harapku di teriknya sinar matahari yang memanggang bumi.